Menjelang petang, menanti malam memandang
sang bulan yang selalu ditemani bintang- bintang aku terpaku sejenak ku undo
memori yang telah lama berlalu, dalam ku memandang kebahagian yang tak pernah
tergantikan oleh apapun disana kamu ada, disana kamu bagai bintang yang selalu
memancarkan cahaya kemilau kau tak terlukiskan dengan apapun, disini aku hanya
bisa mengenang tampa dapat membawamu kembali dari kenangan-kenangan itu, kau
mengores banyak kata dan makna yang saat ini harus aku pelajari agar aku tetap
hidup bersama kebahagian yang walaupun hanya dapat kukenang. Saat terakhir
kalinya kau titip senyum itu tak pernah ku bayangkan kau akan pergi
meninggalkanku dengan sejuta duka yang ku rasakan, begitu indah dan hangatnya
senyumaan itu hingga tak kuasa aku melupakannya. disana ku yakin kau tetap
menggingat akan daku ku yakin itu karena aku merasakannya walau sekatapun tak
pernah kudengar kembali kau menanyakan tentang aku.
ditempat ini berkali-kali aku datang,
berkali-kali pulah aku mengenang dirimu terkadang aku bertanya salakah aku jika
sesekali ku merindukan dirimu, salahkah aku jika aku jujur masih ada sedikit
cinta yang tertingal untuk dirimu yang walau ku tahu kau telah memilih dia
untuk melanjutkan perjalanan kisah cinta hidupmu, tak pernah sedikitpun aku
berpikir untuk membencimu ataupun sedikit menyalahkan dirimu atas segala yang
kau dan aku alami saat itu ku sadar kau dan aku terjebak dalam perbedaan tak
pernah kita harapkan, dengan penuh kerelaan aku melepas dirimu karena aku
merasa keputusan yang tak pernah kau ucapkan padaku adalah yang terbaik buat
aku dan dirimu walau segalanya harus aku relakan walau kehilanggan dirimu
adalah sejarah penderitaan terbesar yang ku alami dalam hidupku,
perpisahan itu membuat aku harus pergi jauh dengan harapan agar dapat melupakan
dirimu serta menggubur segala rasa yang timbul dari semua persoalan yang ku
hadapi saat itu. tragis ku rasakan hampir separuh hidupku terasa hampa tak
berguna bila ku kenang, hm..... lumayan bilah membuat rambutku sedikit rontok
dan harus aku pangkas sependek mungkin dan wajah yang tadinya tak berjerawat
akhirnya jerawat juga, wah.... terasa nikmat penderitaan saat itu air mata tak
pernah kering seakan- akan ada mata air yang mengalir tiada hentinya.
Segala upaya kulakukan untuk melupakan dirimu,
menyedihkan kehidupanku saat itu sejalan dengan tugas pekerjaan yang jauh dari
kota dan jauh dari keberadaan dirimu, tanpa henpon, tanpa pak Pos, tanpa surat
kabar, tanpa TV ataupun alat komunikasi lainnya. Malam-malamku kuhabiskan
bersama lentera yang sangat sederhana dalam keburaman dan kehampaan hidup saat
itu, beraktifitas pada siang hari dan malam hari kulalui dengan segala
kepedihanku namun kusadari keadaan seperti ini sangat
mendukung suasana hati dan hidupku. Aku
merasa terpuruk seperti keadaan tempat tugas kerjaku sedikit terlukis keadaan
daerah itu yang sangat gersang yang nampak hanya pohon- pohon asam yang tingal
ranting tanpa daun, rumputpun tak tersisa lagi, saat angin menerpa maka
butiran- butiran debupun ikut berterbangan, disiang hari matahari tak pernah
bersahabat maklum daerah bayang-bayang ujan kata orang disana dimana kalau
dilihat awannya lumayan banyak namun takpernah turun hujan terkadang jika awan
mulai mengumpul gelegar kilat bergemuru anggin bertiup kencang maka hujan tak
akan turun. dan akhirnya bersama bergulirnya waktu akupun bisa
melupakan dirimu walau tidur malamku kau
selalu datang dalam mimpi-mimpiku.
(hal terindah dalam hidupku adalah bisa
mencintaimu dan pernah menjadi kekasihmu walau akhirnya kau menjadi milik orang
lain karena ku sadar begitu banyak kaum ku yang tergila-gila padamu walau tak
sampai gila juga dan aku akui itu hahaha....... disisi lain banyak juga kaum mu
yang membenci dirimu karena aku tak dapat berpaling dari mu..... itu dulu...)
banyak hal yang membuat aku tersenyum sendiri dalam kesendirianku jika ku
membuka kembali memori yang telah lama ku simpan jika memeori itu berbentuk
sebuah benda mungkin sudah kusam atau usang termakan waktu namun memori ini
masi segar dalam kalbuku karena bersama mu seakan mengukir banyak cerita yang
tak akan terlupakan dan itu yang membuat aku harus menoreh cerita di wadah ini.
Sesaat ku menghembus napasku dalam-dalam
melepas segala kepenatan hati, ku sadar kini yang tertingal hanya puing-puing
kenangan dan aku harus tetap menjalankan hidup tanpa harus memikul segala
penyesalan akan cinta masa laluku. ku ingin selalu tersenyum bahagia karena
kebahagian itu selalu ada dalam hati kita, dari persoalan demi persoalan yang
ku lalui ternyata kebahagiaan tak akan datang dari luar diri kita sebelum dari
hati kita merasa bahagia.
Ah… cinta pertamaku yang telah lama
berlalu namun tetap terasa indah. Ingin rasanya seperti itu kembali namun di
hati kecilku masih ada rasa takut, yah takut gagal seperti yang pernah ku
alami. Aku hanya berdoa kiranya dia kembali bersama cinta yang pernah ku
rasakan walau dalam wujud makluk lain. Dalam perjalanan kisah ku, sejauh ini
telah kutemui segumpal hati yang benar-benar mencintaiku namun separuh hatiku
masih ragu akan ketulusan hati itu, dia begitu baik, santun, setia dan masih banyak
lagi hal yang baik darinya namun aku sering bertanya apakah dia yang harus aku
cintai, apa benar aku mencintainya seakan aku tak sepenuhnya mengenal dia namun
semuanya ku pasrahkan pada waktu yang akan terus berjalan bersama langkah
kakiku……
Dear
No comments:
Post a Comment